Sebelas kelompok dukungan sebaya baru mulai berjalan pada Juni 2026, tersebar di enam kota. Dengan tambahan ini, jumlah kelompok yang aktif menjadi 96.
Sebarannya
| Kota | Kelompok Baru | Anggota |
|---|---|---|
| Jakarta | 3 | 31 |
| Bandung | 2 | 21 |
| Yogyakarta | 2 | 19 |
| Surabaya | 2 | 22 |
| Medan | 1 | 9 |
| Makassar | 1 | 11 |
Seratus tiga belas anggota baru seluruhnya, dengan rata-rata sepuluh orang per kelompok — tepat di tengah rentang yang kami targetkan.
Yang Ternyata Paling Sulit
Sebelum angkatan ini dibuka, kami mengira hambatan terbesar adalah mencari orang yang mau ikut. Ternyata tidak. Pendaftar untuk angkatan 18 mencapai 187 orang, jauh melebihi tempat yang tersedia.
Yang menahan justru tempat. Kelompok dukungan sebaya butuh ruangan yang memenuhi tiga syarat sekaligus, dan ternyata itu tidak mudah:
- Tertutup. Percakapan tidak boleh terdengar dari luar.
- Bisa dipakai berulang. Kelompok butuh tempat yang sama setiap dua pekan, bukan pindah-pindah.
- Mudah dijangkau tanpa kendaraan pribadi. Kalau harus naik ojek dua kali, kehadiran menurun tajam setelah bulan kedua.
Dari 17 tempat yang kami tawar, hanya 11 yang akhirnya bisa dipakai. Enam kelompok yang sudah punya anggota terpaksa menunggu angkatan berikutnya.
Yang Membantu
Tiga dari sebelas tempat dipinjamkan perpustakaan daerah, dua oleh balai warga, dan satu oleh sebuah kedai kopi yang menutup ruang belakangnya setiap Sabtu sore. Semuanya tanpa sewa.
Kalau kamu mengelola ruangan yang cocok dan bersedia meminjamkannya dua jam setiap dua pekan, itu bentuk bantuan yang paling kami butuhkan saat ini — lebih daripada bantuan lain mana pun.
Pendamping
Setiap kelompok didampingi dua relawan terlatih. Untuk angkatan ini, 22 pendamping bertugas, sembilan di antaranya baru pertama kali memimpin pertemuan setelah setahun mengamati.
Kami menahan diri untuk tidak menugaskan pendamping baru lebih cepat dari itu, walaupun jumlahnya selalu kurang. Pertemuan yang dipimpin orang yang belum siap lebih merugikan daripada tidak ada pertemuan sama sekali.